Langsung ke konten utama

Essai Reflektif



Revolusi Birokrasi
            Pegawai Negeri Sipil (PNS) merupakan sosok yang diharapkan mampu meningkatkan pelayanan publik melalui pengabdiannya kepada negara. Namun, pada kenyataannya PNS dikenal dengan citra kemalasan oleh masyarakat. Berbagai ujaran negatif terdengar dari rakyat kelas menengah ke bawah yang memandang ketidakadilan terhadap tunjangan gaji yang diterima. Padahal pekerjaan pegawai honorer sama atau bahkan lebih berat dari PNS. Penyalahgunaan wewenang merebah menjadi kontroversial di berbagai kalangan. Di samping itu, berbagai upaya pun dicanangkan demi menepis citra negatif tersebut mulai dari pelaksanaan diklat prajabatan sampai ke rekrutmen pejabat bersih demi mencetak PNS yang disiplin dan bertanggung jawab dalam menjalankan tugasnya.
            Menurut data yang telah dilampirkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada tahun 2017, jumlah penduduk Indonesia melebihi 255 juta jiwa dan 1,7% diantaranya berstatus PNS. Hal ini menunjukkan bahwa hanya 1,7 PNS yang bertanggung jawab melayani 100  masyarakat. Sedangkan kita sangat jauh tertinggal dari negara-negara di Asia Tenggara lainnya seperti Brunei Darussalam, Malaysia, dan Laos yang memiliki rasio 12%, 4%, dan  2,6%. Namun, hal ini tidak bisa menjadi acuan bahwa suatu negara dikatakan ideal atau tidak dengan hanya melihat jumlah PNS yang ada. Namun, dari kinerja PNS-lah publik dapat menilai kinerja birokrasi di sebuah negara. Apabila suatu birokrasi dan pemerintah cenderung tidak dapat memaksimalkan kinerjanya, maka birokrasi tersebut dapat langsung diklaim sebagai suatu birokrasi yang buruk. Wajar saja, hal ini dapat terjadi karena PNS yang berada di lapangan dan menjadi teknisi dalam kehidupan sehari-hari.
            Beberapa bulan terakhir ini Indonesia disibukkan dengan perekrutan CPNS, khususnya di bidang pendidikan dan kesehatan. Pasalnya, tahun ini terdapat 215.000 PNS yang pensiun  sehingga kebutuhan CPNS tahun ini mencapai lebih dari 238.000 orang yang nantinya akan disebar untuk instansi pusat dan daerah. Rekrutmen CPNS tahun ini didominasi tenaga pengajar, kesehatan, dan tenaga yang memiliki kualifikasi teknis di bidang infrastuktur sesuai dengan program Nawacita. Rekrutmen tahun ini sedikit berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yaitu penggunaan sistem ranking dengan basis komputer sebagai teknologi. Semua peserta dapat melihat hasil nilai yang diperoleh secara langsung sehingga tidak ada kemungkinan kecurangan seperti pemalsuan nilai atau ranking yang pernah terjadi sebelumnya. Pemerintah pun berusaha untuk membenahi dan memperketat peraturan agar dapat mencetak CPNS yang disiplin dalam pengabdiannya. Untuk itu semua pihak mengharapkan agar PNS yang terpilih dapat benar-benar bertanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya.
            Menjadi seorang PNS adalah pekerjaan yang dapat menjamin masa depan, khususnya seseorang yang telah berkeluarga. Pekerjaan ini juga menjadi idaman bagi sebagian orang. Penghasilan bulanan yang tetap membuat PNS untuk tidak perlu khawatir jika tidak berpenghasilan karena kondisi tertentu. Sebagai tambahan adanya tunjangan pensiun, jaminan kesehatan, serta jaminan karir membuat PNS tidak khawatir untuk memikirkan masa tua nanti.  Selain itu, PNS juga memiliki jam kerja yang stagnan yaitu 8 sampai 9 jam per hari dan bersedia untuk ditempatkan di berbagai daerah dalam lingkup NKRI. Sementara itu Surat Keterangan pengangkatan atau biasa disebut sebagai SK PNS dapat dijadikan jaminan meminjam uang di bank. Oleh karena itu, tidak heran jika PNS baru dapat langsung membuat rumah serta dapat membeli alat transportasi seperti mobil dan motor karena mereka pasti akan dapat membayar cicilan setiap bulannya.
            Di sisi lain, topik hangat yang sedang membuming baru-baru ini adalah pendaftaran Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) yang kelak diharapkan dapat menjadi solusi dari kontroversial yang memuncak. Kebijakan ini membuka peluang bagi tenaga honorer yang sudah berjuang lama, tetapi tidak dapat menjadi PNS karena beberapa faktor. Solusi inilah yang diambil Presiden Joko Widodo untuk menjernihkan keadaan yang sedang keruh. Kuota yang disediakan sebanyak 75.000 kursi. Semua fasilitas dan jaminan dari PPPK ini dijanjikan sama persis dengan PNS. Laporan terbaru menyebutkan, proses penerimaan PPPK ini diperkirakan akan mulai berlangsung pada Februari 2019. Dengan demikian solusi terbaik bagi peserta yang belum berhasil menjadi PNS dapat mengambil langkah ini dalam pengabdiannya kepada bangsa dan negara.
           


Komentar

Postingan populer dari blog ini

A Long-Distance Love, Written by Allah

Every great story begins with something small—an encounter, a message, or even a shared screen. Ours began quietly too, not with fireworks, but with formulas and Zoom meetings. It was 2021, and I was enrolled in a Differential Equations class at Universitas Sriwijaya. Everything was held online due to the pandemic, and that’s when I first saw his name pop up—Khairu Agus Wijaya, a calm and focused student from Merauke, Papua, who was joining through the Merdeka Student Exchange Program (PMM). We weren’t the only ones with cameras on, and there were no breakout rooms, but there were small-group discussions that consisted of four people. But somehow, amidst the grid of faces and silence between lectures, we began to notice each other. Our first interaction wasn’t even in Indonesian—it was in Mandarin, a language we both happened to be learning. That small spark led us to chat more through the class WhatsApp group. We began exchanging ideas about assignments, encouraging each other before...

My Journey as Adam Lane in An Elmwood Trail

  If you had told me I’d be driving through a dark forest, solving high-level riddles, hacking into secret files, and being emotionally tangled in a missing person case—all from my phone—I might’ve laughed. But An Elmwood Trail , created by Techyonic, has given me an experience that’s deeper and more human than I ever expected from a mobile game. It’s not just a game—it’s a full-blown narrative adventure where you live the role , not just play it. In this interactive mystery thriller, I stepped into the shoes of Adam Lane , a detective with a complicated life—balancing work, fatherhood, and a fragile relationship with my wife, Amanda Lane . Our teenage son, Jim Lane , is smart, independent, and a bit too brave for his age. While trying to solve the town’s biggest mystery—the disappearance of 18-year-old Zoey Leonard —I was also trying to hold my family together. The town of Riverstone, surrounded by the haunting Elmwood Forest , is a beautifully eerie place. It’s been three weeks s...

💖 My Fifteen Stars: A Farewell to Secondary 1B

  Becoming a Form Teacher at SIS Palembang this year has been one of the most unexpected, heart-warming, and profoundly meaningful chapters of my entire teaching journey. It was a step into the unknown. I walked into this school as a first time international school teacher. hmm of course nervous, excited, and constantly wondering: Would I fit in? Would I connect with the students? Would I even be able to do this well? Then I met Secondary 1B. They are just fifteen students, six wonderful girls and nine dynamic boys. But somehow, they manage to fill the room with enough personality, noise, colour, and glorious chaos to feel like thirty. They didn’t know it on that tentative first day, and certainly, I didn't either, but they were about to become one of the most significant and meaningful experiences of my life. The Dynamics of Our Little Cosmos Our classroom quickly evolved into its own unique cosmos, a space where every student held a distinct gravitational pull. The nine boys of ...