Langsung ke konten utama

My Second Semester in Sriwijaya University




Do you know guys? Aku sudah jadi mahasiswa semester 3 lho sekarang. Semua UAS udah dilalui. Perjuangan semester 2 ini sangat melelahkan, banyak yang dikorbankan, banyak peristiwa out of the box. Pasti temen-temen kelas ngerasa bahwa aku ambis mati-matian semester 2 ini wkwwk. Sebenernya aku ngambis itu semester 1, ketika semester 2 ini aku cuma mengalir seperti air, ga terlalu ngambis tapi melakukan segala hal semaksimal mungkin. Kalian tahu ga kalo aku dapet masalah pada mata kuliah Sejarah Pendidikan karena pernah bolos sekali. Astaghfirullah, pertama kalinya aku bolos kuliah. Pasti merasa bersalah sekali kan. Mau izin tapi takut ga diizini, yah alhasil bolos deh. Di absen, nama aku ada tanda C+ ntah ap aarti tanda itu tapi aku takut guys. Udah minta maaf dan sekarang tinggal pasrah aja sama hasilnya. Pada semester 2 ini aku juga punya pengalaman suka duka tentang KN-MIPA. Satu pelajaran yang dapat aku ambil adalah jangan terlalu percaya diri dan meremehken sesuatu. Pada suatu hari aku mengikuti seleksi KN-MIPA tingkat Fakultas. Sebelum hari-H aku belajar all about Olympiad. Mempelajari tipe soal KN-MIPA tapi masih abstrak, terlintas sedikit dipikiranku. “Semasa SMA aku merupakan salah satu siswa olimpiade matematika, jadi pasti aku akan bisa mengerjakan soal-soalnya nanti apalagi ini hanya tingkat fakultas”. Astaghfirullah, jangan ditiru ya teman-teman alhasil ambis yang tidak baik itu tidak ada gunanya, ambis boleh tapi luruskan niat ya!! Seminggu kemudian, Bu Weni (Dosen Geometri Analitik Datar dan Ruang) masuk ke kelas dan mengumumkan 10 besar perwakilan yang lulus dengan nilai tertinggi. Jengggg… dan nama aku pun tidak disebut, seketika darahku seakan langsung turun, pengen nangis tapi malu, so. Keep smile wkwkk. Then, aku muhasabah diri merenung tak karuan, curcol dengan sahabat jauh, dan sholat untuk menenangkan diri. Keesokan harinya, pengumuman resmi pun keluar, siapa sangka ternyata namaku berada diurutan ke-11 karena nilai yang kuperoleh sama dengan mahasiswa yang mendapatkan peringkat 7,8,9,10. Aku sangat percaya bahwa jika Allah menghendaki maka apa pun dapat terjadi. Beberapa minggu kemudian, KN-MIPA tingkat Universitas pun dilakakukan sebanyak ribuan orang mengikuti seleksi ini agar dapat menjadi 6 besar yang nantinya dikirim untuk mewakili KN-MIPA tingkat Regional di Lampung. Pada saat itu, aku sudah pesimis. Tingkat fakultas saja aku dapat peringkat ke-11 apalagi tingkat univ pasti sangat jauh. Pada hari tu aku sangat pasrah, semua materi KN-MIPA aku tidak paham. Seketika mendapatkan soal, aku hanya menjawab menggunakan logika, mengerahkan semua pikiran ke soal. Dari ke-4 materi KN-MIPA mungkin hanya materi kombinatorika yang pernah aku dapatkan semasa SMA dan itupun tidak begitu dalam. Jadi, aku jawab semua soal yang berkaitan dengan kombinatorik dengan serius dan pilihan ganda lainnya aku jawab menggunakan rumus apapun yang terlintas dipikiranku kala itu. Semua orang terlihat sangat biasa mengerjakan soal-soal itu, dan aku hanya bisa terdiam. Singkat cerita, sebulan pun berlalu. Pada hari itu, aku belum membuka gawaiku. Ketika aku selesai sholat dhuha, temanku (Sincia) sedang memegang gawainya dan senyum-senyum sendiri ke arahku. Aku sih seperti biasa, don’t care about it, pasti diam mau mengejekku lagi. Setelah aku menanggalkan mukenah, diapun menyuruhku membuka Whatsapp, betapa terkejutnya aku ketika melihat namaku berada di urutan ke-3. Siapa sangka aku menjadi satu-satunya Maba yang mewakili Unsri tingkat regional bidang matematika pada ajang KN-MIPA ini. Syukur alhamdulillah sekali. Mohon doanya ya teman-teman agar aku bisa mendapatkan medali dan mengharumkan almamater Universitas Sriwijaya. Rencana Allah itu sangat indah, percayalah semua takdir yang kamu jalani itu ada hikmahnya, jadi jangan pernah menyalahkan diri sendiri, orang lain, atau bahkan Allah. Karena sesungguhnya itu adalah jalan terbaik jika setiap perbuatan kita awali dengan basmalah.
Pada semester 2 ini aku mencoba untuk mengikuti lomba tingkat nasional juga yaitu Lomba Karya Tulis Ilmiah yang diadakan oleh forum Bidik Misi Nasional di Universitas Lampung. Pada suatu hari salah satu teman kelasku memberi pesan lewat Whatsapp dan memberitahu tentang info lomba ini, yaps Namanya Mutiara Febrianti (untuk mengenalnya lebih jelas, baca tulisanku sebelumnya ya!). Betapa shock nya aku ketika melihat deadline pengumpulan abstrak nya adalah besok wkwk. Namun, karena jiwa ambisku sedang bergejolak, tanpa berpikir Panjang aku pun menyetujui ajakan temanku itu dan aku menjadi ketua dalam tim ini. Tentu perjuangan dalam mengikuti lomba ini tidak mudah, banyak suka duka yang telah dilalui. Perasaan marah, sedih, senang pasti ada. Siapa sangka pada detik-detik terakhir sebelum berita Covid-19 mencuat, pengumuman 10 besar pun tiba, pada malam itu, Mutiara langsung menelponku dan berkaca-kaca memberi tahu bahwa karya kami lulus dan berada di posisi kedua berdasarkan penilaian Full Paper nya. Namun, kepergian kami untuk mngikuti tahap presentasi pun tertunda akibat adanya kebijakan Lock Down dan Social Distancing dari pemerintah. Semestinya kami berangkat tanggal 1-5 April 2020 ini. Namun, tidak apa-apa. Semua pasti ada hikmahnya.
Baiklah teman-teman itu pengalaman semester 2 ku. Semoga bermanfaat dan dapat menjadi inspirasi bagi kita semua. Untuk, cerita-cerita selanjutnya yang temen-temen mau dengar bisa comment di bawah tulisan ini ya. insyaAllah saya akan menceritakannya di kesempatan berikutnya. Saya pamit undur diri, Wassalamu’alaikum wr.wb . salam Wawachans…


Komentar

Postingan populer dari blog ini

A Long-Distance Love, Written by Allah

Every great story begins with something small—an encounter, a message, or even a shared screen. Ours began quietly too, not with fireworks, but with formulas and Zoom meetings. It was 2021, and I was enrolled in a Differential Equations class at Universitas Sriwijaya. Everything was held online due to the pandemic, and that’s when I first saw his name pop up—Khairu Agus Wijaya, a calm and focused student from Merauke, Papua, who was joining through the Merdeka Student Exchange Program (PMM). We weren’t the only ones with cameras on, and there were no breakout rooms, but there were small-group discussions that consisted of four people. But somehow, amidst the grid of faces and silence between lectures, we began to notice each other. Our first interaction wasn’t even in Indonesian—it was in Mandarin, a language we both happened to be learning. That small spark led us to chat more through the class WhatsApp group. We began exchanging ideas about assignments, encouraging each other before...

To XB AIS Class: A Letter From Your Grateful Teacher

As my days at SMA IT Raudhatul Ulum come to an end, I find myself overwhelmed with gratitude, love, and—above all—deep sadness. Resigning from a place that has given me so much is not easy. But what makes it even harder is saying goodbye to a group of students who have left a permanent mark on my heart: XB AIS Class . This class wasn’t just a teaching assignment. It became a safe space, a little home inside the school walls. I still remember my first day with them. I didn’t know yet how close we would become, how they would end up becoming the most beautiful part of my journey in this school. These students—my students—taught me that love can be expressed in countless ways, even in a teacher-student relationship. Though I am older, and though I am supposed to be the one nurturing them, they were the ones who showed me love every day . Some of them encouraged me with kind words, always knowing the right thing to say when I looked tired or overwhelmed. Some gave me gifts—small, thou...

My Journey as Adam Lane in An Elmwood Trail

  If you had told me I’d be driving through a dark forest, solving high-level riddles, hacking into secret files, and being emotionally tangled in a missing person case—all from my phone—I might’ve laughed. But An Elmwood Trail , created by Techyonic, has given me an experience that’s deeper and more human than I ever expected from a mobile game. It’s not just a game—it’s a full-blown narrative adventure where you live the role , not just play it. In this interactive mystery thriller, I stepped into the shoes of Adam Lane , a detective with a complicated life—balancing work, fatherhood, and a fragile relationship with my wife, Amanda Lane . Our teenage son, Jim Lane , is smart, independent, and a bit too brave for his age. While trying to solve the town’s biggest mystery—the disappearance of 18-year-old Zoey Leonard —I was also trying to hold my family together. The town of Riverstone, surrounded by the haunting Elmwood Forest , is a beautifully eerie place. It’s been three weeks s...