Langsung ke konten utama

Surat untuk Ayah

Potret ayah dan anak perempuannya| Unsplash (kompasiana.com)

Dear Ayah,

Apa kabar yah? semoga ayah sehat selalu ya yah. Tahun ini genap 14 tahun kita tidak tinggal satu atap. Aku ingat bahwa dulu ayah pernah berpesan bahwa ini cobaan yang mungkin hanya berlangsung 5 sampai 10 tahun saja. Tapi nyatanya tidak, takdir berkata lain. Belasan tahun juga ibu berusaha mengisi kekosongan posisi itu. Ayah tahu, ibu selalu bertanya “Apakah ibu berhasil mendidik kalian?” Ibu takut bahwa kami kurang bahagia karena tanpa adanya sosok ayah. Aku tidak tahu apakah harus membenci ayah atau tidak. 


Yah, sekarang anak sulungmu sudah menyelesaikan pendidikannya dan bergelar sarjana. Aku sudah menepati janjiku kepada ayah untuk tidak pacaran selama masih sekolah. Aku juga menepati janjiku untuk fokus belajar selama sekolah. Ayah tahu, anakmu ini mendapat IPK 3,99 dan paling besar di angkatan. Dulu, ayah adalah orang pertama yang mengajariku untuk menyelesaikan soal matematika sewaktu aku masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Nilai 0 pertamaku pun diperoleh dalam mata pelajaran matematika. Tapi siapa sangka, anakmu ini justru menyelesaikan pendidikan di jurusan itu. Ayah… aku berjanji untuk mewujudkan doa yang telah ayah panjatkan melalui namaku ini. “Nur Zahwa” (Cahaya Kebanggaan)


Ayah ingat tidak? orang pertama yang mengajariku masak adalah ayah. Ayah bilang kalo ayah ga di rumah jangan masak. Dulu ayah mengajariku buat sambal dengan tiga bahan, sayur bening, dan mie sarden. Itu adalah menu-menu yang penuh kenangan. Aku juga selalu ingat, kalo kita berdua jalan pasti kita ke warung bakso. Ayah tau, itu jadi menu favoritku karena aku selalu membayangkan bahwa ayah sedang makan bersamaku.


Yah, terkadang aku tidak kuat dengan beban hidup ini. Dulu, aku iri dengan teman-temanku yang setiap pulang sekolah dijemput, setiap ada tugas berat ayahnya membantu, selalu ditanya sudah makan belum, ditanya uang masih ada nggak, ditanya gimana harinya, ditegur jika salah, dilindungi ketika terancam, dan aku rindu momen-momen akan hadirnya sosok ayah. Ayah tahu, aku iri pada saat ayah selalu ada untuk sepupuku. Ayah menjadi orang pertama yang mengurus kasus sepupuku di kantor polisi, ayah menjadi orang pertama yang menjemput sepupuku di bandara ketika baru pulang dari luar kota. Tapi, ayah berada dimana saat aku yang berada di posisi itu.


Ayah….orang bilang, uang itu bukan segalanya. Tapi uang penghambat segalanya. Ayah tahu, kami bertiga seketika menghentikan langkah karena uang. Jalil berhenti kuliah karena beasiswa tidak mengcover biaya transportasi. Jalil memilih menganggur karena tidak ada uang untuk mengurus syarat administrasi untuk melamar pekerjaan. Janah memilih untuk pacaran untuk mengurangi beban transportasi. Aku juga memilih untuk bekerja terlebih dahulu daripada melanjutkan studiku langsung. Ayah tahu? ibu adalah sosok yang sangat hebat untuk berusaha mengisi posisi ayah dalam keluarga. Setiap malam ibu kelelahan dan tertidur pulas, setiap gajian ibu juga tidak pernah membeli sesuatu yang dia inginkan. Ibu membiayai keuangan keluarga sendirian. Ibu juga menemaniku disetiap ada urusan mulai dari tes masuk sekolah, menemaniku ke rumah sakit, dan menemaniku belanja.  


Ayah… sekarang anakmu ini sudah mulai dewasa. Sudah mulai merasakan jatuh cinta tapi takut untuk membangun cinta. Aku bingung untuk memilih sosok lelaki seperti apa. Aku takut gagal dalam suatu hubungan. Teman-temanku bilang aku mudah sekali untuk menjadi bodoh karena cinta. Aku sering dimanfaatkan dalam suatu hubungan. Aku tidak ingin pacaran namun aku takut jika langsung menikah. Aku tidak ingin kejadian ini terulang lagi untuk kedua kalinya dihidupku. Aku bingung bagaimana aku memperkenalkan sosok lelaki itu kepada ayah, aku bingung yah.  


Sebenarnya ada banyak lagi cerita yang ingin aku sampaikan ke ayah. Sekitar lebih dari 5000 cerita yang belum aku utarakan selama 14 tahun ini. Sehat selalu yah…I LOVE YOU


With love,

Zahwa




Komentar

Postingan populer dari blog ini

A Long-Distance Love, Written by Allah

Every great story begins with something small—an encounter, a message, or even a shared screen. Ours began quietly too, not with fireworks, but with formulas and Zoom meetings. It was 2021, and I was enrolled in a Differential Equations class at Universitas Sriwijaya. Everything was held online due to the pandemic, and that’s when I first saw his name pop up—Khairu Agus Wijaya, a calm and focused student from Merauke, Papua, who was joining through the Merdeka Student Exchange Program (PMM). We weren’t the only ones with cameras on, and there were no breakout rooms, but there were small-group discussions that consisted of four people. But somehow, amidst the grid of faces and silence between lectures, we began to notice each other. Our first interaction wasn’t even in Indonesian—it was in Mandarin, a language we both happened to be learning. That small spark led us to chat more through the class WhatsApp group. We began exchanging ideas about assignments, encouraging each other before...

To XB AIS Class: A Letter From Your Grateful Teacher

As my days at SMA IT Raudhatul Ulum come to an end, I find myself overwhelmed with gratitude, love, and—above all—deep sadness. Resigning from a place that has given me so much is not easy. But what makes it even harder is saying goodbye to a group of students who have left a permanent mark on my heart: XB AIS Class . This class wasn’t just a teaching assignment. It became a safe space, a little home inside the school walls. I still remember my first day with them. I didn’t know yet how close we would become, how they would end up becoming the most beautiful part of my journey in this school. These students—my students—taught me that love can be expressed in countless ways, even in a teacher-student relationship. Though I am older, and though I am supposed to be the one nurturing them, they were the ones who showed me love every day . Some of them encouraged me with kind words, always knowing the right thing to say when I looked tired or overwhelmed. Some gave me gifts—small, thou...

💖 My Fifteen Stars: A Farewell to Secondary 1B

  Becoming a Form Teacher at SIS Palembang this year has been one of the most unexpected, heart-warming, and profoundly meaningful chapters of my entire teaching journey. It was a step into the unknown. I walked into this school as a first time international school teacher. hmm of course nervous, excited, and constantly wondering: Would I fit in? Would I connect with the students? Would I even be able to do this well? Then I met Secondary 1B. They are just fifteen students, six wonderful girls and nine dynamic boys. But somehow, they manage to fill the room with enough personality, noise, colour, and glorious chaos to feel like thirty. They didn’t know it on that tentative first day, and certainly, I didn't either, but they were about to become one of the most significant and meaningful experiences of my life. The Dynamics of Our Little Cosmos Our classroom quickly evolved into its own unique cosmos, a space where every student held a distinct gravitational pull. The nine boys of ...