Dear Ayah,
Apa kabar yah? semoga ayah sehat selalu ya yah. Tahun ini genap 14 tahun kita tidak tinggal satu atap. Aku ingat bahwa dulu ayah pernah berpesan bahwa ini cobaan yang mungkin hanya berlangsung 5 sampai 10 tahun saja. Tapi nyatanya tidak, takdir berkata lain. Belasan tahun juga ibu berusaha mengisi kekosongan posisi itu. Ayah tahu, ibu selalu bertanya “Apakah ibu berhasil mendidik kalian?” Ibu takut bahwa kami kurang bahagia karena tanpa adanya sosok ayah. Aku tidak tahu apakah harus membenci ayah atau tidak.
Yah, sekarang anak sulungmu sudah menyelesaikan pendidikannya dan bergelar sarjana. Aku sudah menepati janjiku kepada ayah untuk tidak pacaran selama masih sekolah. Aku juga menepati janjiku untuk fokus belajar selama sekolah. Ayah tahu, anakmu ini mendapat IPK 3,99 dan paling besar di angkatan. Dulu, ayah adalah orang pertama yang mengajariku untuk menyelesaikan soal matematika sewaktu aku masih duduk di bangku taman kanak-kanak. Nilai 0 pertamaku pun diperoleh dalam mata pelajaran matematika. Tapi siapa sangka, anakmu ini justru menyelesaikan pendidikan di jurusan itu. Ayah… aku berjanji untuk mewujudkan doa yang telah ayah panjatkan melalui namaku ini. “Nur Zahwa” (Cahaya Kebanggaan)
Ayah ingat tidak? orang pertama yang mengajariku masak adalah ayah. Ayah bilang kalo ayah ga di rumah jangan masak. Dulu ayah mengajariku buat sambal dengan tiga bahan, sayur bening, dan mie sarden. Itu adalah menu-menu yang penuh kenangan. Aku juga selalu ingat, kalo kita berdua jalan pasti kita ke warung bakso. Ayah tau, itu jadi menu favoritku karena aku selalu membayangkan bahwa ayah sedang makan bersamaku.
Yah, terkadang aku tidak kuat dengan beban hidup ini. Dulu, aku iri dengan teman-temanku yang setiap pulang sekolah dijemput, setiap ada tugas berat ayahnya membantu, selalu ditanya sudah makan belum, ditanya uang masih ada nggak, ditanya gimana harinya, ditegur jika salah, dilindungi ketika terancam, dan aku rindu momen-momen akan hadirnya sosok ayah. Ayah tahu, aku iri pada saat ayah selalu ada untuk sepupuku. Ayah menjadi orang pertama yang mengurus kasus sepupuku di kantor polisi, ayah menjadi orang pertama yang menjemput sepupuku di bandara ketika baru pulang dari luar kota. Tapi, ayah berada dimana saat aku yang berada di posisi itu.
Ayah….orang bilang, uang itu bukan segalanya. Tapi uang penghambat segalanya. Ayah tahu, kami bertiga seketika menghentikan langkah karena uang. Jalil berhenti kuliah karena beasiswa tidak mengcover biaya transportasi. Jalil memilih menganggur karena tidak ada uang untuk mengurus syarat administrasi untuk melamar pekerjaan. Janah memilih untuk pacaran untuk mengurangi beban transportasi. Aku juga memilih untuk bekerja terlebih dahulu daripada melanjutkan studiku langsung. Ayah tahu? ibu adalah sosok yang sangat hebat untuk berusaha mengisi posisi ayah dalam keluarga. Setiap malam ibu kelelahan dan tertidur pulas, setiap gajian ibu juga tidak pernah membeli sesuatu yang dia inginkan. Ibu membiayai keuangan keluarga sendirian. Ibu juga menemaniku disetiap ada urusan mulai dari tes masuk sekolah, menemaniku ke rumah sakit, dan menemaniku belanja.
Ayah… sekarang anakmu ini sudah mulai dewasa. Sudah mulai merasakan jatuh cinta tapi takut untuk membangun cinta. Aku bingung untuk memilih sosok lelaki seperti apa. Aku takut gagal dalam suatu hubungan. Teman-temanku bilang aku mudah sekali untuk menjadi bodoh karena cinta. Aku sering dimanfaatkan dalam suatu hubungan. Aku tidak ingin pacaran namun aku takut jika langsung menikah. Aku tidak ingin kejadian ini terulang lagi untuk kedua kalinya dihidupku. Aku bingung bagaimana aku memperkenalkan sosok lelaki itu kepada ayah, aku bingung yah.
Sebenarnya ada banyak lagi cerita yang ingin aku sampaikan ke ayah. Sekitar lebih dari 5000 cerita yang belum aku utarakan selama 14 tahun ini. Sehat selalu yah…I LOVE YOU
With love,
Zahwa
.jpeg)
Komentar
Posting Komentar