Langsung ke konten utama

Pengalaman Magang di SMA dan PLP di SMP

 

Assalamu’alaikum semuanya, apa kabarnya nih? Semoga semuanya dalam keadaan sehat dan baik-baik saja ya. Terimakasih udah mau baca story ini. Buat yang selalu ngikutin mulai dari 1st semester, congrats ya udah sampe ke semester akhir nih. Buat yang baru mulai buat baca. Yuk mampir di postingan sebelum-sebelumnya. Berkut link buat baca part sebelumnya ya 😊.

            Well, sekarang aku udah ngelewatin masa-masa semester 7 nih. Masa dimana udah ga belajar teori lagi di kelas, masa dimana udah ga harus stay depan zoom seharian, masa dimana harus belajar materi siang malam. Alhamdulillah you grab it. Tapi jangan salah lho, justru masa ini merupakan masa implementasi semua hal yang udah kita peroleh selama di bangku perkuliahan. You need to make many report which are report of thesis, report of internship, and others. Oke, semester ini aku mengambil 3 mata kuliah yaitu Magang kependidikan (4 sks), Pengenalan Lapangan Persekolahan (4 sks), dan Skripsi (6 sks). I’ll spill for you gimana mata kuliah ini berlangsung. Check this out!

            Pertama, mata kuliah magang kependidikan merupakan salah satu mata kuliah praktik yang ditempatkan di sekolah (wajib di sekolah ya karena kita di FKIP) yang berlangsung dari tanggal 1-30 September 2022. Pada tahun ini, sistem penempatan magang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kalo sebelumnya mahasiswa ditempatkan prodi ke beberapa sekolah mitra, sekarang sistem penempatan dibagi menjadi dua yaitu magang mandiri atau ikut sekolah target pengabdian prodi pada tahun ini. Sekolah yang menjadi target pengabdian pada tahun ini yaitu SMP N 1 Pagaralam. Kurang lebih 7 jam kalo menempuh jalur jalan raya dari Palembang. Tapi karena mempertimbangkan beberapa alasan, akhirnya aku memilih untuk magang mandiri. Syarat untuk melakukan magang mandiri diantaranya memilih sekolah terakreditasi B ke bawah dan setiap anggota kelompok terdiri atas maksimal 5 orang. Kenapa sih harus harus akreditasi rendah? Sebenernya sih jawabannya simple, karena sekolah yang akreditasi rendah lebih membutuhkan mahasiswa magang untuk membantu proses pembelajaran di sekolah. Namun, faktanya tidak semua sekolah akreditasi rendah itu kualitasnya tidak baik, bisa jadi karena sekolahnya baru dibangun jadi belum memiliki akreditasi. Contohnya tempatku magang. Aku bersama keempat teman lainnya memilih SMA IT Bina Ilmi Palembang sebagai sekolah tempat kami belajar selama magang. Kenapa di SMA? Karena subjek penelitian kami berempat adalah siswa SMA sehingga kami ingin mempelajari karakteristik siswa sebelum kami ambil data penelitian. SMA IT Bina Ilmi Palembang merupakan sekolah swasta yang baru berdiri pada tahun 2017 sehingga belum memiliki akreditasi (C). Sekolah ini sekolah yang sangat baik, mulai dari fasilitas, proses pembelajaran, dan program-program unggulan yang ditawarkan. Banyak pembelajaran positif yang kami dapatkan selama magang di sekolah ini. Kami belajara menghadapi siswa yang bisa dibilang high average, berpikir kritis, insyaallah sholeh/ah dan sangat kreatif. Setiap harinya kami harus mempelajari materi terlebih dahulu sebelum mengajarkan ke siswa. Disini kami juga merasa lebih religius karena sekolah Islam Terpadu (IT), setiap pagi dan petang membaca al-ma’surat, melaksanakan sholat dhuha, sholat wajib berjamaah, setiap hari murojaah hapalan. I feel like this is my SHS’ environment. Salah satu cara Allah memberikan petunjuk kepada kami, alhamdulillah masya allah. Oh iya, I haven’t introduced my team.  Kelima mahasiswa yang diberikan kesempatan magang di sekolah ini ada saya sendiri Nur Zahwa, kemudian alumni Sekolah Bina Ilmi (Naqiyyah Nurrosyadah), seperbimbingan anak pak Somakim (Karniasih Ramadhani dan Weni Weryani), serta seperbimbingan anak bu Cecil (Mursyidah J. Parandrengi). Cerita magang lebih detailnya aku tulis di laporan magang aja yawww.

Laporan Magang Kependidikan

            Huhu ga terasa ya udah satu bulan aja magangnya dan selama itu juga aku stay di Palembang tanpa pernah pulang ke Layo city tercinta. Sekarang udah bulan Oktober nih, kita pulang kampung dulu ya bestie sembari menunggu penempatan PLP. Daannnnnnn welcome to 13th of October hari pengumuman penempatan mahasiswa PLP.

            Aku intro dulu ya wkwkwk. Oke mata kuliah Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP) merupakan mata kuliah wajib yang dikhususkan untuk mahasiswa FKIP. Beberapa mahasiswa dari berbagai program studi akan ditempatkan di salah satu sekolah mitra baik SMP atau SMA yang ada di sekitar kampus Universitas Sriwijaya tepatnya kota Palembang dan Kab. Ogan Ilir. Pada saat SK keluar, aku ditempatkan di sekolah ku dulu dimana aku pernah menimba ilmu selama 3 tahun yaitu SMP Negeri 1 Indralaya. Dengan anggota tim lainnya yaitu Sincia, Mira, dan Weni (Prodi MTK), Yuni, Rama, dan Anggi (Prodi B. Indo), Arin, Erma, dan Meri (Prodi B.Inggris) Dwi Prasetya, Meiladi, dan Sirli (Prodi Penjaskes). Disini kegiatan yang kami lakukan full mengajar di kelas, membantu kegiatan siswa baik ko/ekstrakurikuler, membantu guru merancang pembelajaran, membantu program OSIS dan program sekolah. Kegiatan PLP ini berlangsung mulai dari tanggal 15 Oktober-15 November 2022. Namun, karena aku harus mengikuti kegiatan kompetisi di luar kota. Maka aku harus izin PLP selama 10 hari. So, mungkin ga banyak pengalaman yang bisa aku ceritain karena diwaktu yang singkat itu, I spent only for teaching math in 8.1, 8.3, 7.F, 7.G, & 7.H.  

Laporan PLP

Sekian cerita di semester 7 ku, bertemu dengan orang-orang baru, bertahan hingga akhir, congrats guys we have passed it. Good job. Untuk part Skripsweet di postingan selanjutnya ya!! Don’t miss it 😊

Komentar

Postingan populer dari blog ini

A Long-Distance Love, Written by Allah

Every great story begins with something small—an encounter, a message, or even a shared screen. Ours began quietly too, not with fireworks, but with formulas and Zoom meetings. It was 2021, and I was enrolled in a Differential Equations class at Universitas Sriwijaya. Everything was held online due to the pandemic, and that’s when I first saw his name pop up—Khairu Agus Wijaya, a calm and focused student from Merauke, Papua, who was joining through the Merdeka Student Exchange Program (PMM). We weren’t the only ones with cameras on, and there were no breakout rooms, but there were small-group discussions that consisted of four people. But somehow, amidst the grid of faces and silence between lectures, we began to notice each other. Our first interaction wasn’t even in Indonesian—it was in Mandarin, a language we both happened to be learning. That small spark led us to chat more through the class WhatsApp group. We began exchanging ideas about assignments, encouraging each other before...

To XB AIS Class: A Letter From Your Grateful Teacher

As my days at SMA IT Raudhatul Ulum come to an end, I find myself overwhelmed with gratitude, love, and—above all—deep sadness. Resigning from a place that has given me so much is not easy. But what makes it even harder is saying goodbye to a group of students who have left a permanent mark on my heart: XB AIS Class . This class wasn’t just a teaching assignment. It became a safe space, a little home inside the school walls. I still remember my first day with them. I didn’t know yet how close we would become, how they would end up becoming the most beautiful part of my journey in this school. These students—my students—taught me that love can be expressed in countless ways, even in a teacher-student relationship. Though I am older, and though I am supposed to be the one nurturing them, they were the ones who showed me love every day . Some of them encouraged me with kind words, always knowing the right thing to say when I looked tired or overwhelmed. Some gave me gifts—small, thou...

💖 My Fifteen Stars: A Farewell to Secondary 1B

  Becoming a Form Teacher at SIS Palembang this year has been one of the most unexpected, heart-warming, and profoundly meaningful chapters of my entire teaching journey. It was a step into the unknown. I walked into this school as a first time international school teacher. hmm of course nervous, excited, and constantly wondering: Would I fit in? Would I connect with the students? Would I even be able to do this well? Then I met Secondary 1B. They are just fifteen students, six wonderful girls and nine dynamic boys. But somehow, they manage to fill the room with enough personality, noise, colour, and glorious chaos to feel like thirty. They didn’t know it on that tentative first day, and certainly, I didn't either, but they were about to become one of the most significant and meaningful experiences of my life. The Dynamics of Our Little Cosmos Our classroom quickly evolved into its own unique cosmos, a space where every student held a distinct gravitational pull. The nine boys of ...