Langsung ke konten utama

Lulus S1 dalam waktu 3,5 tahun? Ini tips cepat menulis skripsi

 

~Put Allah First and You'll Never be the Last~

Stop Overthinking, Just Do it, and Pray for it

Itu adalah motto yang aku tuliskan dalam bagian persembahan skripsiku. 

Assalamu’alikum temen-temen. Aku mau berbagi pengalaman nih cerita tentang masa-masa skripsi. Masa dimana paling ditunggu sekaligus ditakuti sama mahasiswa S1. Mulai dari semester satu udah overthinking sama skripsi. Well, sebenarnya emang sudah wajib dipikirkan tapi bukan secara berlebihan ya. Fokus untuk mendalami materi perkuliahan agar tidak harus mengulang di akhir. Alhamdulillah aku bisa menyelesaikan studi S1 selama 3,5 tahun dengan IPK 3,99. Mungkin banyak yang bilang IPK tinggi tidak menjamin kesuksesan. I know It, tapi untuk achieve IPK itu butuh effort and struggle lebih. Bagaimana pun you need to be proud of urself karena sudah berhasil melewati masa-masa yang luar biasa. Buat temen-temen yang sudah melewati masa-masa ini selamat ya! Semoga gelar dan ilmunya berkah. Buat teman-teman yang masih berjuang, semangat terus dan jangan pernah berhenti karena percayalah masa ini akan berhasil dilewati dengan bahagia. Oke I’ll tell my experience start from beginning.

Pada awal perkuliahan, mungkin kira-kira waktu masih menjadi mahasiswa baru (maba). Seorang dosen pernah memberikan nasihat yang selalu aku ingat sampai sekarang. Yaitu nasihat dari bu Dr. Ely Susanti, M.Pd. aku lupa waktu itu mata kuliah apa, tapi aku ingat apa yang dikatakan beliau. “Kalian pasti punya target mau lulus cepat seperti kating-kating kalian yang lulus 3,5 tahun. Pesan ibu, jangan pernah menunda-nunda sholat/ibadah. Hal ini pernah terjadi dalam pengalaman ibu. Dulu ibu pernah menargetkan lulus S2 dalam 2 tahun. Pada saat itu, ibu bebrapa kali tidak tepat waktu melaksanakan sholat, contohnya shubuh kita bangun kesiangan jam 5, sudah 30 menit kita telat. Coba bayangkan dalam sebulan kita sudah menunda 30 hari*30 menit=900 menit. Bagaimana dengan setahun? 900 menit *12=10800 menit ini sama saja dengan satu minggu. Tanpa disadari hal ini bisa jadi berdampak sama target kita tadi sudah mundur seminggu. Itu baru shubuh, bagaimana kita telat di setiap waktu sholatnya dan waktunya lebih dari 30 menit? Bisa jadi sampai bertahun-tahun kalo kita akumulasikan. Hal ini bisa jadi penghambat buat kita untuk dapat menggapai mimpi kita. Jadi pesan ibu, usahakan sholat tepat waktu, insyaallah urusan kita selalu dimudahkan dan dilancarkan oleh Allah“. Yaps, pesan ibu Ely inilah yang selalu membuatku terngiang-ngiang kalo lagi males beribadah. Tapi, jangan juga ibadah karena skripsi ya, ibadah tetap harus karena Allah swt semata. So, aku selalu memegang motto “Put Allah first and You’ll never be the last”. Aku tidak bermaksud menggurui, aku juga masih belajar dan berusaha. Kita harus selalu saling mengingatkan dalam kebaikan ya akhi dan ukhti 😊. Okay, I’ll jump to the 6th semester now.     

Sebenarnya kita udah belajar nulis artikel, buat proposal, buat esai, makalah, dan tugas lainnya yang sangat menunjang dan menjadi bekal buat kita untuk memulai menulis skripsi. so that’s why I’ve tell you before untuk memaksimalkan pembelajaran di setiap semester. Jika ada tugas kelompok/individu usahakan kerjakan sendiri, pelajari semua skillnya. Jika disuruh upload artikel ke jurnal. Ambil peluang itu! Karena semuanya akan sangat berguna ketika kita sudah menjadi mahasiswa tingkat akhir atau setelahnya. Oh iya jadi lupa, kan tadi mau cerita mulai semester 6. Maaf ya gess suka beralih topik jadi kebablasan cerita.

Januari 2022, aku mendapatkan 2 kabar bahagia sekaligus membuat bimbang. Kabar pertama, dinyatakan lulus program MBKM Kampus Mengajar dan ditempatkan di Sulawesi Barat. Dan kabar kedua adalah pembagian dosen pembimbing yang alhamdulillahnya dosen Pembimbing Akademikku sendiri. Tapi aku bingung karena aku harus keluar kota dan tidak bisa melakukan bimbingan selama periode tersebut dan takut tertinggal dari teman-temanku. Setelah pengumuman dosen pembimbing, aku langsung menghubungi dosen tersebut, dan tiba-tiba langsung bahas penelitian. Aku yang belum siap auto panik kan karena belum ada persiapan. Awalnya aku disuruh untuk penelitian terkait etnomatematika tentang rumah seribu tiang yang ada di Kayuagung, OKI. Pada saat itu, aku hanya mengiyakan terlebih dahulu saran dosen tersebut, karena mau mencari informasi dan belajar dulu. Aku bahkan sampai menghubungi alumni UIN Raden Fatah Palembang karena penelitiannya yang membahas tentang rumah seribu tiang. Beberapa minggu kemudian, dosenku menghubungi lagi dan meminta untuk melakukan komunikasi via Zoom Meeting dan membahas terkait penelitian bersama mahasiswa bimbingan bapak. Alhamdulillahnya Allah memberikan jalan, dosenku mendapatkan dana hibah penelitian, sehingga kami ikut melakukan penelitian untuk mengembangkan LKPD berbasis filsafat di jenjang SMA. Dan bapak juga menyampaikan bahwa bimbingan untuk sementara waktu ini berlangsung via Whatsapp/Zoom Meeting saja.

Bimbingan skripsi pun dimulai. Mulai dari mencari masalah, menentukan judul, merancang latar belakang, dan menentukan fokus penelitian. Proses penulisan latar belakang dan tinjauan pustaka aku maksimalkan sebelum penugasan di Sulbar. Alhamdulillah draft 2 bab sudah fix ada di tangan. Selama di Bulubonggu (desa penempatan), minim sekali sinyal. Bahkan untuk menghubungi keluarga juga susah. Selama penugasan draft skripsiku sama sekali tidak tersentuh. Aku berterima kasih dengan keluarga kedua ku (Khairu dan Diva) yang meskipun sama-sama di tempat susah sinyal. Tapi kalian tetap mencari cara untuk menghubungiku dan selalu saling memotivasi untuk menyelesaikan studi. Pernah suatu hari bimbingan untuk menyampaikan progress penulisan. Kami semua mempersiapkan draft untuk bab 1 ternyata bapak meminta draft 3 bab. Selama itu juga kami tidak melakukan bimbingan lagi karena keterbatasan di daerah masing-masing. Beberapa bulan tidak melakukan progres terhadap draft skripsi. Singkat cerita penugasan pun berakhir. Tanggal 29 Juni 2022 aku kembali ke tanah sriwijaya. Satu minggu penuh mengumpulkan niat kembali untuk membangun konsistensi menulis. Setelah itu, mulailah mencicil bagian satu persatu bagian proposal, meninjau ulang bab 1- 3. Dan membuat target sempro pada bulan Agustus. Satu pesan dosen pembimbing yang selalu diingat untuk menulis skripsi adalah “Setiap hari harus menulis meskipun hanya satu paragraf.” Hal itu sangat benar teman-teman, 3 hari saja kita tidak membuka skripsi kita, maka akan kecanduan untuk tidak meneruskannya. Terkadang kita perlu mood booster untuk kembali menulis.

Alhamdulillah tepat pada 23 Agustus 2022 aku melaksanakan seminar proposal (sempro). It’s not the final. Ternyata sempro itu adalah awal dari rasa pusing seperti yang kita dengar dari kakak tingkat. Setelah sempro kita harus memikirkan proses pengambilan data, mengurus administrasi penelitian, dan meminta pertolongan kepada Allah itu adalah yang paling utama. Insyaallah segala hal yang kita lakukan akan dipermudah dan dapat dilewati begitu saja. September 2022, satu bulan penuh melakukan magang sekaligus mempersiapkan dan melaksanakan pengambilan data. Sembari melakukan penelitian, mengejar target untuk melaksanakan seminar hasil di awal bulan oktober menjadi tantangan yang luar biasa. Aku melakukan pengambilan data terakhir pada tanggal 28 September 2022 dan tenggat waktu mengumpulkan bahan untuk seminar adalah tanggal 30 September. And finally, we did it. Tepat tanggal 6 Oktober 2022 aku melaksanakan Seminar Hasil (Semhas) di the 4th Sriwijaya University of Learning and Education-International Conference (SULE-IC). Setelah semhas pun rasa malas mulai menghantui. Satu bulan lebih progress yang dilakukan sangat lambat. Tidak terasa sudah bulan November akhir Skripsiku masih dibagian hasil penelitian dan total halaman masih 50an. Harapan menyelesaikan studi 3,5 tahun pun hampir pupus dan mulai berangan 4 tahun. Namun, Allah membantu memberikan petunjuk, semangat, dan ide dalam menulis. Dengan kesiapan yang hanya beberapa minggu, aku memberanikan diri untuk mendaftarkan diri mengikuti ujian akhir perkuliahan (sidang skripsi) pada kloter pertama. Dan alhasil Alhamdulillah. Tepat tanggal 27 Desember 2022 unofficially aku menyandang gelar S.Pd. dengan GPA 3,99. It was an amazing bachelor experience. Terimakasih Universitas Sriwijaya telah menjadi bagian sejarah dalam hidupku. I'll never forget it. 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

A Long-Distance Love, Written by Allah

Every great story begins with something small—an encounter, a message, or even a shared screen. Ours began quietly too, not with fireworks, but with formulas and Zoom meetings. It was 2021, and I was enrolled in a Differential Equations class at Universitas Sriwijaya. Everything was held online due to the pandemic, and that’s when I first saw his name pop up—Khairu Agus Wijaya, a calm and focused student from Merauke, Papua, who was joining through the Merdeka Student Exchange Program (PMM). We weren’t the only ones with cameras on, and there were no breakout rooms, but there were small-group discussions that consisted of four people. But somehow, amidst the grid of faces and silence between lectures, we began to notice each other. Our first interaction wasn’t even in Indonesian—it was in Mandarin, a language we both happened to be learning. That small spark led us to chat more through the class WhatsApp group. We began exchanging ideas about assignments, encouraging each other before...

To XB AIS Class: A Letter From Your Grateful Teacher

As my days at SMA IT Raudhatul Ulum come to an end, I find myself overwhelmed with gratitude, love, and—above all—deep sadness. Resigning from a place that has given me so much is not easy. But what makes it even harder is saying goodbye to a group of students who have left a permanent mark on my heart: XB AIS Class . This class wasn’t just a teaching assignment. It became a safe space, a little home inside the school walls. I still remember my first day with them. I didn’t know yet how close we would become, how they would end up becoming the most beautiful part of my journey in this school. These students—my students—taught me that love can be expressed in countless ways, even in a teacher-student relationship. Though I am older, and though I am supposed to be the one nurturing them, they were the ones who showed me love every day . Some of them encouraged me with kind words, always knowing the right thing to say when I looked tired or overwhelmed. Some gave me gifts—small, thou...

💖 My Fifteen Stars: A Farewell to Secondary 1B

  Becoming a Form Teacher at SIS Palembang this year has been one of the most unexpected, heart-warming, and profoundly meaningful chapters of my entire teaching journey. It was a step into the unknown. I walked into this school as a first time international school teacher. hmm of course nervous, excited, and constantly wondering: Would I fit in? Would I connect with the students? Would I even be able to do this well? Then I met Secondary 1B. They are just fifteen students, six wonderful girls and nine dynamic boys. But somehow, they manage to fill the room with enough personality, noise, colour, and glorious chaos to feel like thirty. They didn’t know it on that tentative first day, and certainly, I didn't either, but they were about to become one of the most significant and meaningful experiences of my life. The Dynamics of Our Little Cosmos Our classroom quickly evolved into its own unique cosmos, a space where every student held a distinct gravitational pull. The nine boys of ...